Minggu, 30 Juni 2024

MAJUKAN TURATEA DENGAN GERAKAN LITERASI

  

   Oleh: Sahabuddin, S.Pd

Pounder TBM An Nur Palajau

          Turatea adalah nama budaya yang amat populer untuk Kabupaten Jeneponto. Nama ini telah dipakai masyarakat sejak abad ke-17 yang lalu. Tahun 1863 Pemerintah kolonial Belanda menaikkan status daerah ini dari underafdeling menjadi afdeling dengan nama Afdeling Negeri Turatea.

           Bumi Turatea masa lampau dihuni oleh beberapa kerajaan yang merdeka dan berdaulat. Walau terdiri dari beberapa kerajaan yang merdeka dan berdaulat, namun kerajaan-kerajaan tersebut tetap merasa satu sebagai orang Turatea dan menyatukan diri dalam wadah Komfederasi Negeri Turatea.

          Sebagai masyarakat yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang besar, maka kita sepatutnya kita menjadi generus yang andal, yaitu yang mampu meneruskan kejayaan Konfederasi Negeri Turatea yang bersatu, giat membangun untuk menjadi masyarakat yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Salah satu upaya untuk mewujudkan cita-cita leluur tersebut adalah memajukan budaya demi mengangkat peradaban masyarakat Turatea.

          Kita memiliki nilai budaya yang bila diimplementasikan akan mampu memajukan Bumi Turatea ini, antara lain nilai siri’ napacce, akbulo sibatang accera’ sitongka-tongka, sipitangarri, dan sebagainya. Nilai-nilai adalah pendorong semangat untuk bekerja keras membangun daerah. Bumi Turatea adalah siri’ta (kehormatan kita) yang tentunya kita tidak mau siri’ta direndahkan oleh orang lain karena kemiskinan atau keterbelangannya. Kita tentu menginginkan daerah kita disegani oleh daerah lain karena kemajuannya.

          Belajar dari bangsa atau daerah lain yang telah maju patut kita lakukan, sebagaimana pesan kelong “cini’ sai borik bellayya, bella mamo kamajuanna” (lihatlah negeri yang jauh, telah jauh kemajuannya), “te’ne mamo julu bori’na, amang sannang pa’rsanganna” (hidup sejahtera masyarakatnya, aman damai kampungnya).

          Mari kita tengok negara-negara lain yang telah maju, seperti negara dalam Benua Asia: Jepang, Hongkong, China, dan Singapura. Kira-kira yang membuat mereka maju, apakah budaya masyarakat mereka sama dengan budaya masyarakat kita. Kalau sama, lalu mengapa kita tidak bisa sejajar dengan mereka, dan kalau beda maka di mana letak perbedaanya ?.

          Mari kita tengok pula negara-negara yang tingkat literasinya tertinggi di dunia. Ada 8 negara dengan literasi tertinggi, yaitu: Fillandia, Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Swiss, Belanda, dan Jepang (http://penerbitdeepublish.com). Pada sumber lain disebutkan: Finlandia, Swedia, Belanda, Jepang, Hongkong, Australia, China, dan Singapura (https://www.inews.is).

          Tahun 2022 Programme for Internasional Student Asesment (PISA) telah mengvaluasi sistem pendidikan pada 80 negara di seluruh dunia yang menilai 3 aspek, yaitu membaca, matematika, dan sains. Ada 10 negara yang memperoleh skor tertinggi, yaitu: Singapura, Irlandia, Jepang, Korea, China Taipei, Estonia, Macao, Kanada, Amerika Serikat, dan Selandia Baru. Indonesia berada di peringkat 10 terbawa, yaitu peringkat 70 dari 80 negara yang dinilai. Indonesia masih dikalah oleh Thailand (63), Malaysia (60), dan Brunai Darussalam (44).(https://lifestyle.bisnis.com).

         Dari data tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa negara-negara maju di Asia adalah negera-negara yang tingkat literasinya tinggi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa daya literasi suatu masyarakat akan mempengaruhi maju tidaknya suatu masyarakat. Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang daya literasinya tinggi. Untuk memajukan suatu daerah maka cara yang utama adalah meningkatkan daya literasi masyarakatnya.

          Kabupaten Jeneponto adalah salah satu daerah di Indonesia yang Indeks Pembangunan Masyarakatnya (IPM) sangat rendah. Di Provinsi Sulawesi Selatan saja, IPM Kabupaten Jeneponto berada di urutan ke-24 dari 24 kabupaten/kota. Walau tahun 2019 Kabupaten Jeneponto sudah keluar dari zona daerah tertinggal, namun daerah ini masih berada pada posisi daerah termiskin di Provinsi Sulawesi Selatan bersama dengan Kabupaten Pangkep, Luwu, Luwu, dan Enrekang (BPS Sulsel 2023).(https://www.suaramerdeka.com).

          Dari posisi IPM dan masuk kabupaten termiskin maka dapat diasumsi bahwa daya literasi masyarakat Bumi Turatea sangat rendah. Walau Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tergolong tinggi, yaitu pada urutan ke-7 di Provinsi Sulawesi Selatan, namun IPLM tidaklah berarti bila tidak diiringi dengan kegemaran membaca masyarakatnya. Peningkatan daya literasi masyarakat bukan hanya ditentukan oleh tingginya IPLM melainkan ditentukan oleh tingginya tingkat kegemaran membaca masyarakatnya.

        Oleh karena itu, hal yang penting kita bangun untuk memajukan Bumi Turatea adalah minat dan daya literasi masyarakat. Gerakan Literasi Masyarakat (Geliat) yang telah dicanangkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsifan Jeneponto perlu kita dukung. Bentuk dukungan nyata kita adalah mari membudayakan kegemaran membaca, mulai dari diri sendiri, keluarga, sekolah, instansi, dan masyarakat.

       Sinergi dan kolaborasi dalam gerakan literasi daerah perlu dibangun, agar Geliat ini benar-benar menjadi gerakan bersama yang kelak dapat memajukan masyarakat dan daerah kabupaten Jeneponto.

       Untuk menyukseskan Gerakan Literasi Turatea, maka ada 3 ranah literasi yang perlu dikembangkan, yaitu:

1. Literasi keluarga

        Keluarga adalah pendidikan yang pertama dan yang utama bagi anak. Sebagian besar waktu anak-anak berada dalam keluarganya. Makanya, keluarga memiliki pengaruh yang bersar terhadap anak.

Begitupun literasi anak, keluarga memiliki peran penting. Orang tua sebagai penggerak literasi anak diharapkan mampu menjalankan perannya, agar anak-anak memiliki minat dan daya literasi, yaitu minat dan kemampuan membaca, yang pada akhirnya keluarga mampu menciptakan suatu karya yang dapat menambah pendapatan dan meningkatkan kesejahteraannya.

Untuk membangun literasi keluarga, maka orang tua hendaknya menjalankan beberapa peran, antara lain:

a. Menyediakan bahan-bahan bacaan untuk keluarga, seperti buku, majalah, koran, dan sebagainya. Kalau perlu mengadakan perpustakaan keluarga, menyisihkan sebagian belanja bulanan untuk membeli bahan-bahan bacaan;

b. Mengajak keluarga untuk membaca, misalnya menyediakan waktu bagi keluarga untuk membaca bersama sebelum tidur;

c. Orang tua senantiasa memberi keteladanan bagi anak-anak untuk membaca, minimal 30 menit dalam sehari;

d. Orang tua senantiasa mengarahkan anak-anaknya membaca, mengingatkan jadwal membacanya, dan memotivasi agar bersemangat membaca;

e. Orang tua senantiasa mengawasi anak-anak agar tidak menghabiskan waktunya pada gadget/HP, TV, dan lainnya yang membuatnya kehilangan kesempatan membaca;

f. Orang tua mengarahkan anak-anaknya menulis, menyediakan buku tulis, dan memberikan motivasi dan apreasiasi;

g. Orang tua mengajak anak-anaknya untuk mempraktekkan keterampilan yang diperolehnya dari buku bacaannya, untuk dikomsumsi bersama atau dijual untuk menambah penambah pendapatan keluarga.

2. Literasi Sekolah

          Sekolah adalah lingkungan pendidikan kedua setelah keluarga. Lebih dari ¼ waktu anak-anak berada di sekolah. Di sekolah, anak-anak mendapatkan bimbingan guru secara terstruktur dan terjadwal. Fasilitas pendidikan di sekolah lebih lengkap daripada di rumah.

          Di sekolah ada perpustakaan yang mendukung warga sekolah untuk melakukan gerakan literasi. Cuma, sayangnya masih banyak sekolah yang tidak memanfaatkan perpustakaan secara maksimal sehingga ada buku-buku yang belum dibaca sudah dimakan rayap. Sebagian perpustakaan sekolah hanyalah gudang buku belaka yang berdebu, deretan buku-buku yang tidak tersentuh oleh pembaca.

Dan mirisnya lagi ada kepala perpustakaan yang jarang berkunjung ke perpustakaan, sehingga tidak mengetahui ada tidaknya pengunjung perpustakaan, atau tidak mengetahui kondisi koleksi perpustakaan.

Gerakan literasi sekolah sangat dipengaruhi oleh pimpinan sekolah, guru-guru, dan pengelola perpustakaan. Oleh karena itu, ketiganya harus berperan aktif untuk bersama-sama menggerakkan literasi sekolah.

Untuk menjalankan gerakan literasi sekolah, maka ada beberapa peran yang perlu dijalankan oleh warga sekolah, antara lain:

a. Memanfaatkan perpustakaan sekolah secara maksimal sebagai sarana sumber belajar, rekreatif, maupun informatif;

b. Menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang diminati atau menyenangkan bagi warga sekolah, yang tentunya dengan pengelolaan dan penataan yang bersih, indah, rapi, dan nyaman;

c. Membudayakan kegemaran membaca di sekolah, antara lain sebelum jam pelajaran dimulai, guru dan siswa membaca bersama. Sebelum bekerja, staf TU membaca bersama, minimal 10 atau 20 menit;

d. Sekolah menyediakan waktu dalam seminggu untuk kunjungan ke perpustakaan. Pada waktu ini, guru dan siswa bersama-sama berkunjung ke perpustakaan;

e. Masing-masing kelas mengadakan pojok baca;

f. Sekolah mengadakan taman baca di pekarangan sekolah atau di depan gedung/ruang perpustakaan;

g. Sekolah membuat aturan yang mengharuskan para guru membaca buku, misalnya sebulan 1 buku, dan mendorong guru-guru untuk menulis, memotivasi dan mengapresiasi guru yang menghasilkan karya tulis;

h. Perpustakaan memotivasi dan mengapreasiasi para pemustaka yang rajin yang berkunjung, rajin membaca, atau rajin meminjam buku di perpustakaan;

i. Sekolah melakukan kegiatan lomba literasi, seperti lomba mencipta dan membaca puisi, lomba mengulas buku, lomba menulis cerpen, lomba menulis karya ilmiah, dan sebagainya;

j. Sekolah mengapreasiasi karya tulis siswa, misalnya mencetaknya dalam bentuk buku dan dijadikan bahan koleksi perpustakaan dan koleksi pojok baca kelas;

k. Sekolah mengadakan majalah dinding atau buletin sekolah;

l. Sekolah mengadakan peningkatan daya literasi, seperti pelatihan mengelola majalah dinding, pelatihan menulis berita, atau pelatihan menulis artikel dan buku bagi guru-guru.

3. Literasi masyarakat

          Umumnya masyarakat beranggapan bahwa aktivitas litreasi seperti membaca atau menulis hanyalah pekerjaan anak sekolah, sehingga mereka tidak menganggap penting aktivitas literasi tersebut, akibatnya minat dan daya literasi literasi masyarakat rendah.

          Perhatian mereka terhadap literasi keluarga juga rendah karena mereka beranggapan bahwa literasi anak-anaknya adalah tanggung jawab guru-guru di sekolah. Akibatnya, mereka kurang peduli terhadap aktivitas literasi keluarganya, baik di rumah maupun dalam masyarakat.

          Sebagai pounder taman baca masyarakat, penulis merasakan bahwa gerakan literasi masyarakat butuh upaya ekstra, karena membangun minat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan atau taman baca tidaklah mudah, apalagi bila masyarakat amat sibuk dengan pekerjaannya sehari-harinya mencari nafkah.

          Masalah utama yang dialami para pengelola taman baca dan perpustakaan desa adalah kurang minat masyarakat baik anak-anak, apalagi orang dewasa. Namun, masalah ini tentu bisa diselesaikan melalui gerakan literasi masyarakat, antara lain:

a. Peran aktif pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan tokoh agama untuk mendorong masyarakat membaca baik di rumahnya maupun di taman baca atau perpustakaan desa;

b. Peran aktif masyarakat untuk mendirikan dan menyelenggarakan taman baca, pojok baca masjid, taman baca perkotaan, kedai baca, dan sebagainya;

c. Dukungan penuh pemerintah, mulai dari pemerintah daerah sampai kepada pemerintah desa terhadap gerakan literasi masyarakat, seperti dukungan dana, pembinaan, bantuan bahan bacaan, bantuan mencarikan donatur, atau kegiatan yang sifatnya motivasi dan apresiasi;

d. Kesediaan pemerintah desa untuk memberikan alokasi dana untuk menambah koleksi bahan bacaan, pengadaan sarana, atau insentif bagi pengelola komunitas penggerak literasi yang ada di desanya.

4. Literasi Instansi

          Literasi instansi adalah salah satu gerakan literasi yang dilaksanakan di instansi-instansi, baik di instansi pemerintahan maupun di perusahaan swasta. Tujuan literasi instansi ini adalah meningkatkan daya literasi para aparat atau karyawan dalam rangka meningkatkan SDM istansi atau perusahaan tersebut.

          Untuk memajukan Bumi Turatea, maka perlu adanya gerakan literasi instansi melalui pengadaan perpustakaan khusus atau pojok baca di setiap instansi. Untuk terlaksanakanya gerakan ini maka dibutuhkan hal-hal berikut:

a. Setiap instansi atau perusahaan di Bumi Turatea memiliki perpustakaan atau pojok baca;

b. Instansi atau perusahaan mengalokasi dana untuk pengadaan bahan bacaan atau pengembangan perpustakaan/pojok baca;

c. Instansi atau perusahaan mendorong pegawai/karyawan untuk membaca sebelum bekerja atau saat istrahat atau meminjam buku untuk dibaca di rumah;

d. Instansi atau perusahaan mendorong pegawai/karyawan untuk menulis, dan mengapresiasi pegawai/karywanan yang memiliki karya tulis;

          Gerakan literasi di Bumi Turatea untuk mengubah sifat malas membaca menjadi gemar membaca tentu tidaklah mudah, butuh upaya-upaya berupa motivasi, kolaborasi, dan upaya-upaya memaksa dari pihak-pihak yang memiliki kekuasaan, antara lain:

a. Kolaborasi pemerintah daerah antara eksekutif dengan legislatif untuk membuat regulasi berupa Peraturan Daerah Literasi (Perda Literasi), sebagai landasan dan payung hukum penyelenggaraan gerakan literasi Turatea;

b. Kolaborasi antarinstansi, antara lain antara Dinas Perpustakaan dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa untuk menggerakkan literasi sekolah dan literasi masyarakat;

c. Membangun perpustakaan daerah yang refresentatif, perpustakaan kecamatan dan setiap desa/kelurahan memiliki perpustakaan atau taman baca;

d. Memberikan motivasi atau apresiasi kepada tokoh-tokoh penggerak literasi masyarakat, literasi sekolah, dan literasi instansi;

e. Mengadakan media informasi dan komunikasi keliterasian sebagai wadah berbagi informasi, pengalaman, dan ilmu keliterasian sesama penggerak literasi, atau pembinaan dari isntansi terkait.

Dengan upaya-upaya tersebut, maka penulis optimis, beberapa tahun ke depan, masayarakat Turatea akan menjadi masyarakat yang gemar membaca, daya literasi dan IPM meningkat, hingga akhirnya Jeneponto menjadi daerah yang maju, atau minimal bisa melepaskan diri dari predikat sebagai daerah termiskin dan IPM terendah. Insyaa Allah, kalau kita bersungguh-sungguh berusaha, kita pasti berhasil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TBM An Nur Ajak Anak-Anak Membaca Bareng di Dermaga Lassang-Lassang

Mengajak masyarakat membaca tidaklah harus di perpustakaan atau taman baca, melainkan di mana saja yang penting menyenangkan. Hal ini yang b...