Oleh: Sahabuddin,S.Pd (Pounder TBM An Nur Palajau)
Guru adalah
mesin perubahan dan kemajuan. Sejarah telah mengabadikan nama guru sebagai
pelopor gerakan literasi bangsa, antara lain Ki Hajar Dewantoro dari kalangan
pria dan RA Kartini dari kalangan wanita telah melakukan literasi mental untuk
merubah mental bangsa,guna menumbuhkan kesadasaran nasional sebagai bangsa yang
terjajah, mendorong lahirnya kebangkitan nasional, sumpah pemuda hingga
akhirnya menyatakan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Pemerintah berhasil memberantas buta aksara,tetapi sayangnya tidak
diikuti dengan keberhasilan dalam mmenumbuhkan minat baca masyarakat sehingga
tingkat literasi masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Berbagai survey
menunjutkan hasil yang kurang memuaskan. Survey John W Mullar tahun 2016 memposisikan Indonesia di urutan 60 dari 61
negara yang disurvey minat baca masyarakatnya (Okezone.com,17 Mei 2018) dan
survey Program For Internasional Student Assesment (PISA) tahun 2019,skor
menempatkan Indonesia pada urutan ke-62 dari 70 negara yang disurvey
(detiknews,05 Jan 2019).
Hasil survey tersebut mengetuk hati kita tentang pentingnya melakukan
gerakan literasi guna meningkatkan
indeks literasi masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas SDM. Guru sebagai
pemangku amanah Konstitusi UUD 1945
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan pembangun SDM hendaknya berada di
barisan terdepan dalam gerakan literasi. Oleh karena itu, guru dituntut menjadi
sosok warga negara yang literat, yaitu memiliki jiwa dan daya literasi yang
tinggi agar mampu menggerakkan literasi masyarakat.
Walau belum ada hasil survey tentang indeks literasi guru di Indonesia,
namun dapat dikemukakan bahwa daya literasi guru di Indonesia tidak jauh beda
dengan hasil penelitian John W Mullar dan PISA. Rendahnya daya literasi guru
menyebabkannya kurang profesionalnya dalam menjalankan tugas. Sertifikat
pendidik yang dimiliki belum menjamin bahwa semua guru yang bersertifikat
pendidik benar-benar profesional dan berdaya literasi. Salah satu indikatornya
adalah kurangnya kemampuan dan kreativitas guru untuk menulis.
Literasi bukan hanya masalah kemampuan membaca melainkan mencakup
kedalaman pemahaman dan kemampuan bertindak terhadap sesuatu yang telah
dipahami, seperti mengkritisi, menciptakan, merenovasi, memodifikasi atau
mengkomunikasikan pemahaman kepada orang lain, sehingga tindakannya dapat
memberi manfaat bagi hidupnya dan bagi masyarakat dalam menghadapi persaingan
global.
Guru literat adalah impian Pembangunan Abad 21, yaitu guru yang memiliki
jiwa daya daya literasi yang tinggi, antara lain cirinya adalah:
1. Memiliki banyak waktu untuk membaca atau mandiri belajar untuk
meningkatkan profesionalismenya dan itu dilakukan atas kemauan sendiri;
2. Memiliki kecintaan terhadap bahan-bahan literatur atau memiliki koleksi
bahan bacaan;
3. Selalu meluangkan waktunya untuk menulis dan membukukan atau
mempublikasikan tulisan;
4. Memiliki kepedulian yang tinggi terhadap literasi orang lain, sehingga
giat menggerakkan literasi di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat;
5. Selalu menciptakan pembelajaran yang berbasis teknologi dan menantang
siswa,antara lain menantang untuk berfikir, mencari jawaban di perpustakaan
atau sumber lainnya, menantang untuk melakukan percobaan atau penelitian,
menantang untuk menanggapi dan menantang untuk berkarya.
Sulawesi Selatan di Abad 21 ini menuntut dan menantang guru untuk
meningkatkan perannya sebagai penggerak literasi. Ada beberapa peran yang bisa
dijalankan oleh guru guru sebagai penggerak literasi, antara lain:
1. Menggerakkan literasi diri, antara lain banyak membaca, kreatif menulis,
mengkaji ilmu, mengungkap kebenaran, menciptakan prangkat pembelajaran baik
perangkat lunak maupun perangkat keras. membimbing anak memanfaatkan teknologi
untuk berkarya dan memasarkan karya.
2. Menggerakkan literasi di lingkungan keluarga, seperti mengadakan bahan
bacaan di rumah, mengajak keluarga membaca bersama, mendampingi anak yang
sedang menoton TV, membimbing anak memanfaatkan perangkat teknologi, dan
sebagainya.
3. Menggerakkan literasi sekolah, antara lain melalui kegiatan membaca 10
menit sebelum belajar, kunjungan ke perpustakaan,museum atau sumber belajar
lainnya, memberdayakan majalah dinding, mengadakan lomba literasi, penelitian
remaja dan sebagainya.
4. Mengadakan pojok baca di setiap kelas dalam rangka mendukung gerakan 10
menit membaca sebelum belajar,
5. Menggerakkan literasi masyarakat, antara lain mendirikan komunitas
penggerak literasi masyarakat; melakukan kegiatan literasi masyarakat seperti
mengajar membaca, mengajak masyarakat membaca, membina seni budaya diskusi
remaja dan sebagainya.
Meningkatkan indeks literasi masyarakat tentu bukanlah perkara
muda,melainkan dibutuhkan komitmen,kerja keras dan kolaborasi antarkomponen
bangsa dalam menyelenggarakan gerakan literasi nasional atau literasi daerah.
Gerakan literasi nasional atau literasi daerah membutuhkan guru literat dalam
jumlah yang banyak,dan ini bukanlah perkara yang mudah.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan populasi guru
literat di negeri ini, yaitu:
1. Guru, yaitu bila telah berusaha membangun daya literasi diri,melawan
sifat malas membaca, belajar menulis, kreatif dan inovatif dalam pembelajaran
atau di luar pembelajaran;
2. Pimpinan, yaitu kepala sekolah atau pejabat terkait yang memiliki
kewenangan untuk menggerakkan guru berliterasi, menyediakan fasilitas untuk
membantu guru mengembangankan daya literasi, mendorong guru untuk menulis atau
melakukan penelitian;
3. Organisasi profesi guru, yaitu adanya program-program organisasi yang
mendorong berkembangnya daya literasi guru, seperti pelatihan dan pendampingan
penelitian, pelatihan jurnalistik, pelatihan menulis buku, dan sebagainya;
4. Pemerintah daerah, yaitu adanya kebijakan publik yang mendorong
berkembangnya daya literasi guru, seperti menyediakan akses, mengadakan lomba
karya tulis, alokasi dana untuk penelitian guru, mengadakan lembaga penerbitan,
memberi penghargaan kepada guru penggerak literasi atau membuat Perda Literasi.
5. Legislatif, yaitu adanya kepedulian pihak legislatif terhadap
peningkatan daya literasi guru, antara lain memperjuangkan anggaran kegiatan
literasi guru, memperjuangkan alokasi anggaran sarana dan prasarana bagi guru
pegiat literasi, mengadakan lomba literasi guru atau membuat Perda Literasi.
Bila kelima faktor tersebut di
atas bergerak, berkomitmen untuk maju, dan bersinergi maka akan banyak lahir
guru-guru yang literat. Guru literat akan bekerja secara aktif menggerakkan
literasi masyarakat, dan tentu kita optimis bahwa ke dapannya SDM bangsa akan
meningkat dan pembangunan pun akan maju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar